Makanan “Sehat” Belum Tentu Aman: Meningkatkan Literasi Keamanan Pangan di Masyarakat
Ketika “Sehat” Tak
Selalu Aman
Belakangan ini, tren hidup sehat semakin kuat. Banyak orang beralih ke makanan organik, minuman herbal, atau menu “tanpa pengawet”. Foto salad, jus buah segar, dan olahan alami memenuhi media sosial. Namun, di balik semangat positif itu, ada satu hal yang terkadang masih terlewat: keamanan pangan. Padahal, tak sedikit kasus keracunan justru datang dari makanan yang tampak sehat dan alami, entah karena bahan tidak dicuci sempurna, alat kurang higienis, atau penyimpanan yang salah. Pertanyaannya, apakah sehat itu selalu aman?
Salah Kaprah Tentang
“Makanan Sehat”
Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa pangan tanpa bahan tambahan otomatis lebih aman. Faktanya, pengawet dan pewarna pangan yang diizinkan justru berfungsi mencegah pertumbuhan mikroba berbahaya. Sebaliknya, produk “alami” yang tidak diolah dengan benar dapat menjadi tempat berkembangnya Salmonella, E. coli, atau Listeria. Misalnya, jus buah segar yang dibiarkan pada suhu ruang, salad tanpa pencucian sempurna, atau jamu rumahan yang dikemas tanpa sanitasi memadai. Keamanan pangan tidak bisa diukur dari tampilan atau label “alami”, tetapi dari cara pengolahan dan penyimpanannya.
Celah Literasi Keamanan
Pangan di Masyarakat
Masih banyak masyarakat
yang belum memahami prinsip dasar keamanan pangan. Empat kunci penting yang
sering diabaikan adalah:
- Bersih: mencuci tangan,
bahan, dan alat dengan benar.
- Pisahkan: hindari
kontaminasi silang antara bahan mentah dan matang.
- Masak
dengan suhu cukup:
pastikan mikroba berbahaya mati sempurna.
- Simpan
aman:
jaga suhu penyimpanan sesuai jenis pangan.
Kurangnya literasi ini terlihat di berbagai lini, mulai dari rumah tangga, kantin sekolah, hingga pelaku UMKM kuliner. Kesalahan sederhana seperti penggunaan talenan yang sama untuk ayam mentah dan sayur matang bisa menimbulkan risiko besar. Keamanan pangan seharusnya menjadi budaya, bukan hanya aturan teknis di industri besar.

Peran Kampus dan
Akademisi
Kampus memiliki peran
strategis sebagai agen perubahan perilaku. Melalui penelitian, pengabdian
masyarakat, dan kegiatan mahasiswa, literasi keamanan pangan bisa dikemas
menarik dan aplikatif. Contohnya, pelatihan sederhana tentang higienitas pangan
untuk pedagang kantin, edukasi digital melalui infografik, atau kegiatan kuliah
lapangan ke UMKM. Mahasiswa juga bisa menjadi food safety ambassador, penyebar
pengetahuan yang ringan tapi berdampak. Selain itu, kolaborasi lintas bidang
antara teknologi pangan, gizi, kesehatan masyarakat, dan komunikasi dapat
memperluas jangkauan edukasi. Pendekatan yang komunikatif membuat masyarakat
lebih mudah memahami sains di balik kebersihan pangan.
Membangun Budaya Aman
dan Sehat
Membangun kesadaran
keamanan pangan tidak bisa instan. Ia membutuhkan konsistensi, edukasi, dan
contoh nyata. Sama seperti kebiasaan mencuci tangan yang kini menjadi refleks
setelah pandemi, prinsip keamanan pangan pun seharusnya menjadi bagian dari
rutinitas kita.
"Karena pada akhirnya,
sehat bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga bagaimana kita
memperlakukan pangan itu sebelum masuk ke tubuh kita.
Mari bersama menumbuhkan budaya sadar pangan aman dari dapur rumah hingga
laboratorium kampus."
ditulis oleh: Raida Amelia Ifadah, S.TP., M.P.